Di suatu malam, dering sms terdengar nyaring dari
dalam kamar. Bagi Niko, bunyi handphone-nya terdengar lebih nyaring dari suara
televisi di kamarnya yang sedang menyiarkan acara musik dari penyanyi ternama.
Seperti biasa, seperti malam-malam sebelumnya, ia selalu menemani sahabat
tersayangnya untuk sekadar curhat tentang perkembangan kabar hatinya.
Dea : “Nik, aku jadi kepikiran sesuatu deh.”
Niko : “Ada apa Dea? :)”
Dea : “Lawan dari cinta itu bukan benci, kan? Tapi
cuek.”
Niko : “Kok bisa gitu? Apa alasanmu?”
Dea : “Jadi, apapun alasannya kalo dia cuek, berarti
dia nggak cinta. Aku jadi mikir aja,
kenapa selama ini aku sibuk mikirin orang yang jelas-jelas nggak mikirin aku.
Seharusnya aku lebih memperhatikan orang-orang disekitarku yang lebih
menyayangiku.”
Niko : “Cuek bukan berarti gak cinta, Dea. Terkadang
di dalam cuek itu tersembunyi cinta yang lebih besar, bisa jadi di dalam cuek
itu ada doa, dia nggak mau kalau sampai dekat denganmu dia akan menyakitimu.
Maka dari itu dia cuek untuk menghindari semua.”
Melihat pesan balasan dari sahabatnya itu tidak
sesuai dengan apa yang diharapkan Dea, ia pun membalasnya dengan nada protes.
Dea : “Tapi kan selalu ada kemungkinan lain juga,
Nik.”
Dengan sabar dan bijak Niko menanggapi segala keluh
kesah sahabatnya itu.
Niko : “Iya, De. Tapi positive thinking aja, ya :)”
Dea : “Nik, ada yang lain yang buatku merasa nyaman
saat aku disampingnya. Dia beda sama gebetanku yang dulu, yang cuek bebek
abis.”
Niko : “Siapa Dea? Yang kemarin baru ketemu ya? ;)”
Dea : “ehehehe. Begitulah Nik. Dia ini adalah sosok
yang menenangkan.”
Niko : “hm.. aku juga baru dapet obat penenang De
:)”
Dea : “Haaa.. siapa siapa? Ciee udah bisa move on
nih yee”
Niko : “Dia selalu ada disaat aku perlu. Dia selalu
menenangkan hatiku saat aku galau. Pokoknya dia kek barisan nomor ini 134567890
:D”
Dea : “Kok 2nya nggak ada? Dia siapa sih? Aku kenal
nggak?”
Niko : “Iya, dia memang nggak ada duanya
dibandingkan dengan yang lain :)”
Dea : “Siapa sih Niiiik.. penasaran nih”
Niko : “kamu aja ga mau sebut merk kok. Aku juga ga
mau ah :p”
Dea : “kamu kan udah tau“
Niko : “aku belum tau”
Dea : “ya seperti yang kamu bilang tadi :)”
Niko : “Ohh jadi yang kemarin”
Melupakan rasa penasaran tentang siapa yang sudah meluluhkan
hatinya Niko, Dea malah asik curhat mengenai gebetan barunya. Inilah kelemahan
sosok sanguinis seperti Dea; bukan pendengar yang baik.
Dea : “hehehe. Gatau kenapa, tapi faktanya 1. Dia
sering banget bikin penasaran, 2. Suka bikin nyaman saat aku di dekatnya, 3.
Sayang banget sama dia layaknya seorang kakak”
Niko : “Menurutmu dia merasakan hal yang sama nggak?
:)”
Dea : “Entahlah. Itu dia, Nik. Seperti yang kubilang
tadi, dia suka bikin aku penasaran.Seperti hari Sabtu kemarin. Aku iseng nanya
dia sibuk apa enggak, dia jawab “Ada apa dek? Pengen ketemu ta?” Hahaha
nyebelin. Biasanya kalo hari Sabtu seharian dia cuma tidur di kost, tapi
kemarin dia bela-belain nemenin aku. Haha, aku merasa bersalah sudah merusak
hari liburnya.”
Belum sempat Niko mengirim balasan, ada pesan lagi
dari Dea.
Dea : “Merasa bersyukur bisa menghabiskan senja
kemarin bersamanya . Dengan perbincangan singkat namun berkesan. Tapi aku tetap
bersyukur. Bisa memenuhi keinginanku menikmati senja di tempat dan bersama orang
yang belum pernah aku bayangkan sebelumnya :)”
Niko : “Jadi iri nih :D”
Dea : “Ohya Nik, dia-mu sebenernya siapa siih. Aku
ga dikasih tau, awas ya!”
Niko : “haha. Bukan siapa siapa kok De”
Dea : “Niko jahat ih. Aku kan udah jujur”
Niko : “Bener nih mau tau? Tapi ada syaratnya”
Niko : “Bener nih mau tau? Tapi ada syaratnya”
Dea : “Apa? Buruan deh jangan bikin aku tambah
penasaran!”
Niko : “Coba kamu berdiri di depan cermin”
Dea: “Udah nih,
terus?”
Niko : “Persis seperti yang sedang kamu lihat
sekarang. Dialah orangnya :)”
Dea terhenyak. Sedetik kemudian dia menyesali
perbuatannya. Sudah bercerita panjang lebar bahkan sampai hal sekecil perhatian
Niko padanya pun bisa luput dari perhatiannya. Dea seakan menjadi manusia
terbodoh dan tak peka dengan keadaan. Beberapa menit kemudian sms balasan telah
dikirimkan kepada Niko.
Dea : “Jangan pernah lelah untuk tetap jadi sahabat
terbaik yang kusayangi ya Nik :)”
Niko : “Baiklah Dea. Aku akan tetap setia untukmu
:)”
Niko mencari-cari remot televisi kemudian memencet
tombol power. Sepertinya mood melihat tv sudah berubah menjadi mood
mendengarkan lagu. Hatinya seketika beku, ia tahu akan seperti ini jadinya.
Terdengar pelan namun jelas lagu Sepatu milik Tulus mengalun dari mp3 playernya.
♬ Kita
adalah sepasang sepatu. Selalu bersama tak bisa bersatu...
.... Cinta
memang banyak bentuknya. Mungkin tak semua bisa bersatu ♬